Makna Coretan Ide
by Maverick Tollenaar
Menulis
adalah mukjizat. Kemampuan manusia yang satu ini untuk mengubah keberadaan
‘ide’ yang fana menjadi kenyataan adalah cirri khas unik yang membedakan
manusia dari hewan dan makhluk penghuni bumi lainya. Hanya manusia yang dapat
menulis. Namun di tingkat akhir evolusinya, menulis menjadi lebih dari sekedar
menulis. Menulis dapat menjadi tolak ukur akan status sosial seseorang. Menulis
menjadi hal yang tampak kompleks dan jauh dari sifat naturalnya. Menulis harus
disertai kutipan, fakta yang merujuk pada penelitian, dan tetek-bengek lainnya
yang menyulitkan manusia, terutama bangsa dunia ke tiga seperti saya, untuk
membiasakan menulis menjadi kebiasaan sehari hari. Padahal setiap manusia, agar
dirinya menjadi manusia, haruslah memiliki satu fitur berpikir yang unik ini,
yaitu menulis. Makna coretan ide harusnya personal dan bukan menjadi monopoli
segolongan orang yang menstempel dahi mereka dengan tulisan ‘akademis’ agar
setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi seorang manusia yang
utuh.
Makna
coretan ide di atas kertas, atau sentuhan jari pada tombol-tombol keyboard
komputer lebih dari kegiatan menulis atau mengetik itu sendiri. Kebanyakan
kegiatan ini hanya dilakukan untuk memenuhi kepentingan orang lain. Seorang
juru ketik perusahaan misalnya, dia hanya menghurufkan data-data perusahaan
tanpa peduli akan pemahaman personalnya akan ide dari huruf-huruf yang dia
ketik sendiri. Seorang jurnalis bahkan,
kebanyakan dari mereka di Negara ini, hanya memindahkan kenyataan ke dunia
tulisan. Jarang sekali ada seorang jurnalis yang membuat pemahaman personalnya
tanpa campur tangan seorang editor surat kabar. Pernah sekali aku terkesan akan
tulisan seorang jurnalis yang menyoroti kehidupan pelacur, tapi ironisnya
adalah dia orang Belanda (kalau saya tidak salah), bukan seseorang warga negara
ini. Bukunya berjudul Kemuliaan Seorang
Pelacur. Langkah ini diikuti juga dengan film documenter seperti At Stake (Pertaruhan). Kedua karya
jurnalistik tersebut pasti melibatkan aktivitas menulis, atau setidaknya
memiliki prinsip yang sama dengan menulis, yaitu menggoreskan ide pada ‘kertas
kenyataan’ sehingga ide tersebut dapat ‘ada’ melewati batas ruang dan waktu.
Hanya saja, sangat jarang saya temui tulisan-tulisan seperti itu. Hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya ‘menulis’, kemampuan super manusia, telah
menyalahi kegunaan aslinya; yaitu untuk menyediakan kebenaran yang beragam.
Menulis
yang sesungguhnya dapat menjadi penenang jiwa atau frasa yang lebih saya sukai,
candu spiritual. Bukankah agama juga tulisan? Bukankah ideologi politik
kontemporer juga lestari karena tulisan? Lantas, harusnya seseorang, apapun
orang itu, hendaknya menulis agar ‘keberadaannya’ memiliki nilai. Saya
berargumen bahwa dengan menulis seseorang dapat lebih dekat dengan Tuhan-nya,
karena dengan menulis maka seseorang berani untuk melihat pikirannya sendiri.
Dengan menulis, maka seseorang dapat mengetahui pikirannya secara lebih jelas.
Hal-hal apa saja yang dia pikirkan, seruntut apa jalan pikirnya, sebagus apa
logika berpikir yang dia pakai, dan sejauh mana dia mampu menantang dirinya
sendiri untuk menuju kebenaran, semua hanya akan valid dan mendekati keabsahan
absolute jika dan hanya jika orang itu menulis. Dengan tidak menulis, maka ide
seseorang adalah void. Orang lain tak
akan mampu membuktikan keberadaan ide seseorang, apalagi menganalisa apakah ide
itu berharga atau tidak. Oleh karena itu, dengan menulis, sesungguhnya
seseorang telah membuat candunya sendiri, bahkan lebih bertanggung jawab dari
mereka yang tidak. Orang-orang yang tak mampu menuliskan apa yang mereka
percayai kebanyakan adalah mereka karena tidak tahu apa-apa tentang yang mereka
percayai, atau lebih buruk lagi, mereka percaya akan keberadaan sebuah ‘ide’
hanya karena orang tua mereka atau orang kebanyakan juga mempercayai hal yang
sama; dengan kata lain, orang-orang seperti ini adalah mereka yang masuk ke
golongan munafik dan pengecut.
Lupakan
kutipan! Hiraukan terminologi-terminologi kompleks! Hancurkan barikade pikiran!
Saat menulis, komunikasi dengan hati adalah yang terpenting. Inilah yang akan
menyehatkan jiwa, karena seseorang akan semakin tahu bahwa mereka hanya dapat
mengetahui bahwa mereka tidak tahu akan banyak hal. Dengan ini, maka tidak akan
ada sifat arogan, apalagi keangkuhan untuk memonopoli. Tidakkah muak anda saat
melihat representasi manusia kulit hitam sebagai manusia hina bahan lelucon di
televisi publik? Tidakkah muak anda saat melihat representasi transgender, atau
transvestite sebagai kaum marjinal dan bahkan bahan olok-olokkan paling umum?
Semua itu terjadi karena memang yang jadi bahan lelucon diam saja. Kedongkolan
dan kemuakkan mereka tidak ada tertulisnya, sehingga argumen pembelaan mereka
pun tidak berkembang di negeri ini. Lebih parah lagi, karena argument pembelaan
keberadaan mereka tidak ada, maka kesempatanlah bagi mereka kaum radikal apatis
untuk mengklaim bahwa kaum minor tersebut tidak pantas untuk ada, bahwa
keberadaan mereka adalah penistaan. Semua hanya karena coretan ide pro keberadaan
mereka kalah kuantitas, apalagi kualitas. Maka dari itu, persetan lah dengan
nilai dan norma penulisan jalur utama. Harusnya semua ditulis apa adanya, dan
harusnya semangat pemberontakan ide tetap dilestarikan. Perang, jika di dunia
nyata sangat menghancurkan, tidak di dunia ide. Dengan perang ide dan argumen
malahan pikiran akan menjadi terbuka, bahkan kreativitas akan tumbuh dan berkembang. Semua ini akan mudah
jika semua orang memiliki senjata yang tersedia secara masal, yaitu menulis.
Dan menulis di sini harusnya user
friendly, hingga seorang nelayan bahkan mempunyai jurnal pribadi atas
perjalanannya menangkap ikan. Menulis bukan lagi penanda status sosial kelas
burgois, sehingga kelas proletar menganggap diri mereka tak pantas untuk
mengggunakan hal sebenarnya sudah hak mereka.
Makna
coretan ide, dari jaman goresan ide pada batu, kertas, hingga sirkuit pada
prosesor komputer, semua adalah usaha manusia untuk menunjukkan keberadaan
mereka. Menulis sudah merupakan sifat harfiah manusia yang sudah dilupakan, dan
untuk menjadikannya hak sebuah golongan tertentu adalah kebodohan. Menulis,
mencoretkan ide, adalah hal yang lebih dari kelihatanya. Harusnya semua
merebutnya kembali dengan menghancurkan segala nilai dan parameter-parameter
kompleks produk pendidikan formal Negara ini yang hanyalah hak kaum berduit,
berkolusi, dan bernepotisme. Tulis semua sebenar-benarnya, sevulgar-vulgarnya
dan tanpa setan sensorsi!!
Post a Comment