Header Ads

test

Berdialektika Patologis Narsisme


Oleh : Freeman_Ardian

          Pasti setiap manusia memiliki keangkuhan untuk menonjolkan kemampuannya dirinya masing-masing. Manusia mempunyai potensi untuk membidik dirinya sendiri dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Secara filosofis manusia adalah makhluk yang ego dalam kesentrisannya, tinggal bagaimana individu masing-masing merepresentasikannya. Mau menyimpan egonya atau menonjolkan egonya ke dalam lingkungan sosialnya. Mari kita bersikap!!!

          Dari keberagaman manusia memperlakukan egonya, ada salah satu penyakit psikologis yaitu narsisme. Narsisme adalah bentuk memanjakan atau terlalu mencintai diri sendiri. Jika hal ini berlebihan mengakibatkan munculnya sifat Patologis. Patologis adalah narsisme yang ‘overdosis’, kelainan ini mempengaruhinya dalam hal berpikir. Di lingkungan sosial dia akan over reaktif terhadap dirinya sendiri, kepercayaan diri tidak sehat. Dia akan menganggap dirinya paling hebat dilingkungannya.

          Dalam hal ini pengidapnya hanya menggangap yang nyata dan benar adalah tubuh dan pikirannya bukan orang-orang di sekelilingnya. Orang-orang di sekelilingnya dianggap tidak nyata apalagi ada orang yang mengancam eksistensinya, akan diberangus secara ‘kejam’. Dan sebaliknya apabila narsisme masih dalam fase wajar mempunyai peranan ‘baik’ dalam kepribadiannya, yang membuatnya bisa memposisikan untuk tidak bergantung terhadap kondisi keberhasilan orang lain.    

          Narsisme sendiri pernah dicetuskan Sigmun Freud seorang psikolog dengan  mengambil dari kisah mitos Yunani, yaitu narkissos yang dikutuk sehingga mencintai bayangannya sendiri. Di lingkungan sosial kita ini pasti kalian pernah berteman atau sekedar tahu orang yang mempunyai sifat narsisme ini, baik di lingkungan sekolah, bermain, ataupun pekerjaan. Atau malah kita sendiri yang memiliki sifat itu.

          Ada beberapa kasus yang sering terjadi, ketika kita berada di suatu kotak lingkungan sosial ada seseorang yang merasa dirinya merasa harus diakui keberadaanya, merasa superior, angkuh, dan menganggap dirinya berbeda dari yang lain walaupun dia tidak punya ilmu yang kuat untuk bersaing di lingkungannya dan banyak cara untuk membuatnya harus memaksakan keeksisannya, memaksakan pengakuan bukan mendapat pengakuan murni.

          Dialektikanya narsisme mencantumkan sifat berdasarkan pikiran belaka, impian belaka bahkan melibatkan benda. Pelaku memonopoli ketidakmampuan untuk terlihat mampu, memonopoli pikiran untuk terlihat intelektual, memonopoli benda (contoh:harta) untuk ‘terlihat’ borjuis dan menganggap sekelilingnya hanya sekumpulan proletar.


          Terlepas dari semua konteks positif atau negatif tentang narsisme, narsisme adalah sifat alami manusia dari kelahirannya. Dialektika narsisme akan berubah sesuai tuntutan atau gerakan pikiran yang dimana awalnya berupa kesatuan menjadi tercerai sesuai sifat narsisme dalam diri manusia masing-masing. Menceraikan kesatuan dan memberontak atau tetap hidup harmonis dengan narsisme ‘suci’.

Tidak ada komentar